Sebuah rumah besar yang terletak di Jakarta Selatan, hidup satu keluarga yang jarang muncul di publik, tapi namanya banyak dikenal pada kalangan Politik: ialah Suranggana Koesmadilaga dan Inten Maheswari. Mereka membangun rumah itu untuk menumbuhkan empat jiwa muda yang kelak akan berjalan di dunia yang penuh dengan aturan, kekuasaan, dan tuntutan.
Mereka bertemu karena memiliki dua pikiran yang sama-sama kritis dan berujung saling menemukan rumahnya sendiri. Suranggana seorang ahli hukum yang sudah terbiasa bicara dengan bahasa politik tentang pasal, undang-undang dan strategi Negara. Sedangkan Maheswari seorang perempuan yang penuh empati, sifatnya lembut, tapi tidak pernah tunduk pada siapa pun.
Mereka menikah lalu menempati rumah pertama di Kebayoran Baru. Rumah yang kemudian menjadi saksi tumbuhnya tiga anak laki-laki, dan satu anak perempuan. Rumah itu penuh dengan aturan yang harus selalu mereka turuti. Dimana meja makan menjadi ruang diskusi terbuka. Taman belakang menjadi ruang bermain. Dan ruang keluarga menjadi tempat anak-anak belajar arti kehangatan keluarga tanpa harus diajarkan secara langsung.
Maheswari hanya seorang Ibu yang hanya ingin tahu, “apa yang kamu pelajari hari ini tentang dirimu sendiri?” Sementara Suranggana tidak menuntut anak-anaknya menjadi pemimpin, tetapi ialah yang akan selalu mengajarkan, “bagaimana kamu harus tetap tegak berdiri, bahkan ketika dunia sedang goyang dan menyerangmu.”
Suranggana bukan tipe ayah yang akan memeluk anaknya setiap hari. Namun pria itu tahu kapan harus mengirim pengawal pribadi untuk menjaga anak-anaknya, tahu kapan harus menunggu di ruang tamu sampai semua anaknya pulang. Di sisi lain, Maheswari tahu kapan harus diam, kapan harus mengingatkan suami dan anak-anaknya, dan kapan harus menegur mereka dengan lembut agar tidak ada yang kehilangan arah.
Keduanya tidak pernah berbicara keras. Dari cara mereka saling menatap, semua orang tahu bahwa cinta mereka begitu dalam untuk satu sama lain, bahkan untuk keempat anaknya. Rumah itu menjadi tempat ternyaman semua penghuni pulang ketika mereka lelah, bahkan ketika dunia mulai jahat dan memanggil mereka ke arah yang berbeda.
Bagi Suranggana dan Maheswari, rumah bukan tentang kemewahan, melainkan tentang kesinambungan, tentang doa yang tidak pernah berhenti mereka panjatkan, tentang cahaya lampu yang tidak pernah padam sampai anak terakhir pulang, dan tentang cinta yang tidak butuh pengakuan, tapi tetap bisa mereka rasakan hangatnya.
Mereka tahu, suatu hari nanti anak-anaknya akan terbang jauh memilih kehidupannya sendiri. Tapi mereka juga tahu, rumah itu akan selalu hidup selama cinta di antara mereka masih berdetak dalam bentuk yang paling sederhana.
Cinta kami tidak berisik. Kalau kau mau tahu bentuknya, lihat saja cara kami menunggu, dan dengarkan saja cara kami memanggil namamu setiap kau pulang.